Web Crawler & Routing Protocols
Pengertian Web
Crawler
Web Crawler adalah program yang menelusuri World Wide Web
dengan cara yang metodis, otomatis dan teratur. Istilah lain untuk web crawler
adalah ant, automatic indexer, bots, web spiders atau web robots. Web Crawler
adalah salah satu jenis bot atau agen perangkat lunak. Secara umum, proses
crawling dimulai dengan list URL yang akan dikunjungi, disebut seeds. Kemudian
web crawler akan mengunjungi URL tersebut satu per satu. Setiap page URL yang
dikunjungi akan diidentifikasi apakah ada hyperlink di dalamnya. Jika ada maka
akan ditambahkan ke dalam list URL yang akan dikunjungi. Ini disebut crawl
frontier. URL yang didapat dari crawl frontier ajab dikunjungi secara rekursif
dengan beberapa kebijakan tertentu.
Fungsi Web Crawler
Untuk memudahkan pengambilan informasi yang tersebar dan
selalu berubah-ubah di Internet dalam jumlah besar diperlukan sebuah web
crawler. Web Crawler atau dengan kata lain Web Spider ataupun Web Robot merupakan
salah satu komponen penting dalam sebuah mesin pencari modern. Fungsi utama Web
Crawler adalah melakukan penjelajahan dan pengambilan halaman-halaman web yang
ada di Internet. Hasil pengumpulan situs web selanjutnya akan di indeks oleh
mesin pencari sehingga mempermudah pencarian informasi di Internet.
Proses Web Crawler
Berikut ini proses yang dilakukan Web Crawler pada saat
berkerja (Sulastri dan Zuliarso, 2010):
- Mengunduh
halaman web.
- Menguraikan
halaman yang diunduh dan mengambil semua link.
- Untuk
setiap link yang diambil, ulangi proses.
Penerapan Web Crawler
di Internet
Beberapa penerapan web crawler di internet antara lain :
- Mendapatkan
dan menyaring informasi pada mesin pencarian (search engine)
Ø Google
Bot dari Google
Ø Bingbot
dari Bing
Ø Slurp
Bot dari Yahoo
Ø DuckDuckBot
dari DuckDuckGO
Ø Baiduspider
dari Baidu (mesin pencari dari China)
Ø Yandex
Bot dari Yandex (mesin pencari dari Rusia)
Ø Sogou
Spider dari Sogou (mesin pencari dari China)
Ø Exabot
dari Exalead
Ø Alexa
Crawler dari Amazon
- Pencarian
pada Electronic Book (E-Book)
- Data
Tools Analis Website
Ø Google
Search Console
Ø Screaming
Frog SEO
- Data
Website Statistik
Ø Google
News
- Mendapatkan dan menyaring informasi pada
social media
Ø Twitter
Crawling Policies
Policies
yang berarti kebijakan untk mengatur suatu masalah terdapat pada semua aspek
kehidupan termasuk juga pada web crawler dalam penggunaannya. Selama crawling
web terdapat berbagai isu dalam prosesnya sehingga menghasilkan,4 kombinasi
kebijakan(policies), yaitu:
- Selection policy
- Re-visit policy
- Politeness policy
- Parallezization policy
Selection
Policy
• Studi oleh Lawrence and Giles [LG00] menunjukkan tidak
ada search engine manapun yang mengindeks situs di internet lebih dari 16%.
• Crawler hanya mendownload sebagian
dari web , jadi sangat penting untuk crawler mendownload pages yang benar-benar
relevan.
• Ada banyak kebijakan untuk pemilihan
pengurutan bagian pages yang akan di download seperti :
1. breadth-first
2. backlink-count
3. partial Pagerank
• Najork and Wiener [NW01] melakukan
crawl pada 328 juta pages
menggunakan breadth-first
ordering, dan menemukan bahwasannya:
1. breadth-first melakukan crawl pada page
dengan ranking yang tinggi
2. Page yang paling penting adalah page dengan
link rujukan yang paling banyak dari beragam host
Re-visit
Policy
• Objektif dari kebijakan ini untuk melakukan
pengecekan page-paeg yang sudah tidak relevan dan outdated
• Cho dan Garcia-Molina [CGM03a]
mempelajari 2 Re-visit polis yang simple:
1. Uniform policy, mengunjungi semua web pages dengan
freekuensi yang sama terlepasdari banyak perubahannya
2. Proportional policy, mengunjugi ulang pages yang
sering melakukan perubahan dengan frekuensi re-visiting berbanding lurus
dengan perubahan yang terjadi
3. Cho dan Garcia-Molina membuktikan
dalam segi relevansi Uniform mengungguli Proportional. Hasil ini muncul dari fakta
yang ditemukan bahwa ketika page berubahy terllau sering, crawler akan
menyia-nyiakan waktunya hanya untuk re-crawl sehingga tidak dapat
mempertahankan page yang relevan
“Jadi,
untuk meningkatkan relevansi , harus dilakukan penghukuman kepada elemen yang
terlalu sering berganti” [CGM03a].
Politeness
Policy
Seperti
yang dicatatkan oleh Koster [Kos95], penggunaan robot web berguna untuk
sejumlah tugas, tetapi dilengkapi dengan harga untuk masyarakat umum. Biaya
menggunakan robot web meliputi :
- Sumber daya jaringan
- Server overload
- Robot web yang ditulis dengan
buruk, dimana dapat menyebabkan crash pada server atau router, ataupun
unduhan halaman yang tidak dapat ditangani
- Robot pribadi, yang jika
digunakan oleh banyak pengguna, dapat menggangu jaringan dan server web
Solusi
parsial untuk masalah ini adalah
protokol pengecualian robot [Kos96] yang merupakan standar administrator untuk
menunjukkan bagian mana dari server web mereka yang tidak boleh diakses oleh
robot.
Parallezization
Policy
Parallel
crawler adalah crawler yang menjalankan banyak proses secara parallel.
Tujuannya adalah untuk memaksimalkan kecepatan unduhan sambil meminimalkan
overhead dari paralelisasi dan untuk menghindari unduhan berulang pada halaman
yang sama. Untuk menghindari mengunduh halaman yang sama lebih dari sekali,
maka sistem crawling membutuhkan kebijakan untuk menetapkan URL baru yang
ditemukan selama proses crawling, karena URL yang sama dapat ditemukan oleh dua
proses crawling yang berbeda.
Routing Protocols
Router adalah sebuah alat yang mengirimkan paket data
melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses
yang dikenal sebagai routing.
Routing adalah proses untuk memilih jalur
(path) yang harus dilalui oleh paket. Jalur yang baik tergantung pada beban
jaringan, panjang datagram, type of service requested dan pola
trafik. Pada umumnya skema routing hanya mempertimbangkan jalur terpendek (the
shortest path).
Tabel Routing
Router merekomendasikan tentang jalur yang digunakan untuk
melewatkan paket berdasarkan informasi yang terdapat pada Tabel
Routing.
Informasi yang terdapat pada tabel routing dapat diperoleh
secara static routing melalui perantara administrator
dengan cara mengisi tabel routing secara manual ataupun secara dynamic
routing menggunakan protokol routing, dimana
setiap router yang berhubungan akan saling bertukar informasi routing agar
dapat mengetahui alamat tujuan dan memelihara tabel routing.
Tabel Routing pada umumnya berisi informasi tentang:
·
Alamat Network Tujuan
·
Interface Router yang terdekat dengan network
tujuan
Metric, yaitu sebuah nilai yang menunjukkan jarak untuk
mencapai network tujuan. Metric tesebut menggunakan teknik berdasarkan jumlah lompatan
(Hop Count).
Routing Protocol maksudnya adalah
protocol untuk merouting. Routing protocol digunakan oleh router-router untuk
memelihara /meng-update isi routing table. Pada dasarnya sebuah routing
protocol menentukan jalur (path) yang dilalui oleh sebuah paket melalui sebuah
internetwork.
Contoh dari routing protocol adalah RIP, IGRP, EIGRP, dan OSPF.
Contoh dari routing protocol adalah RIP, IGRP, EIGRP, dan OSPF.
Parameter sistem
untuk menguji Routing Protocols
Parameter
Sistem
Parameter
yang digunakan adalah Quality of Service (QOS). QoS merupakan
terminologi yang digunakan untuk mendefinisikan kemampuan suatu jaringan untuk
menyediakan tingkat ja-minan layanan yang berbeda-beda.
a. Delay
(Latency)
Delay (Latency) adalah lamanya
waktu suatu paket sampai ke tujuannya yang diaki-batkan oleh proses transmisi
dari suatu titik ke titik lain. Satuan yang digunakan pada perhi-tungan delay
adalah mili second (ms) . Persamaan untuk menghitung delay :


b. Throughput
Throughput adalah
kemampuan suatu jaringan dalam melakukan pengiriman data. Satuan yang digunakan
pada perhitungan throughputadalah bps. Persamaan untuk menghitung throughput
:
c. Packet
loss
Packet
loss adalah kegagalan transmisi paket data saat mencapai tujuannya. Umumnya
perangkat network memiliki buffer untuk menampung data yang
diterima. Jika terjadi kongesti yang cukup lama, buffer akan penuh dan
data baru tidak diterima.

PERBANDINGAN
ROUTING PROTOKOL OPEN SHORTES PATH FIRST (OSPF) DENGAN ENHANCED
INTERIOR GATEWAY ROUTING PROTOCOL (EIGRP)

Kesimpulan
Berdasarkan
hasil analisis dan pengujian yang telah dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
- Jaringan yang menggunakan routing
protocol OSPF saat traffic normal memiliki nilai rata-rata delay sebesar
283.953 ms, sedangkan jaringan yang menggunakan routing protocol EIGRP
memiliki nilai rata-rata delay sebesar 269.217 ms . Dengan demikian
routing protocol EIGRP mengalami peningkatan kinerja jaringan untuk nilai delay,
yakni menurun 5% jika dibandingkan dengan kinerja dari jaringan PT.
Phinisi Global Data yang menggunakan routing protocol OSPF. Sedangkan
nilai delay pada pengujian dalam traffic sibuk EIGRP masih
unggul 2.7 % terhadap nilai delay routing OSPF.
- Jaringan PT. Phinisi Global Data yang menggunakan routing protocol OSPF saat traffic normal memiliki nilai throughput sebesar 3004.348 bps sedangkan jaringan yang menggunakan routing protocol EIGRP memiliki nilai throughput sebesar 3162.813 bps. Dengan demikian routing protocol EIGRP mengalami peningkatan kinerja jaringan untuk nilai throughput, yaitu 5 % jika dibandingkan dengan kinerja dari jaringan yang menggunakan routing protocol OSPF. Pada pengujian saat traffic sibuk jaringan yang menggunakan routing protocol EIGRP unggul 2,3 % terhadap throughput routing protocol OSPF.
- Jaringan yang menggunakan routing protocol OSPF saat traffic normal memiliki nilai packet loss sebesar 9%. sedangkan jaringan yang menggunakan routing protocol EIGRP memiliki nilai packet loss 0%. Dalam hal ini jaringan yang menggunakan routing protocol EIGRP mengalami peningkatan kinerja sebesar 100% untuk nilai packet loss. Dalamkeadaan traffic sibuk OSPF dan EIGRP memiliki kinerja yang sama baiknya yakni 0%.
- Berdasarkan hasil pengujian
yang telah dilakukan baik dalam traffic normal maupun traffic sibuk,
diketahui bahwa kinerja routing protocol EIGRP lebih baik untuk nilai delay
dan nilai throughput dibanding routing protocol OSPF.
Daftar Referensi
Jurnal
Pramana Yoga Saputra (2017).
IMPLEMENTASI TEKNIK CRAWLING UNTUK PENGUMPULAN DATA DARI MEDIA SOSIAL TWITTER.
Politeknik Negeri Malang
Agustino Halim, Rudy Dwi Nyoto,
Novi Safriadi (2017). Perancangan Aplikasi Web Crawler untuk Menghasilkan
Dokumen Teks pada Domain Tertentu. Universitas Tanjungpura
Nur Indah, Yulita Salim, Ramdan
Satra (2018). ANALISIS PERBANDINGAN ROUTING PROTOKOL OPEN SHORTES PATH FIRST
(OSPF) DENGAN ENHANCED INTERIOR GATEWAY ROUTING PROTOCOL (EIGRP). Universitas
Muslim Indonesia
Castillo, Carlos (2004). Effective Web Crawling
(Ph.D. thesis). University of Chile


Komentar
Posting Komentar